Pilgub Mencari Pemimpin

Profil

Agus Harimurti Yudhoyono
Lahir  : Bandung, 10 Agustus 1978
Panggilan : AHY
Agama : Islam

BIOGRAFI

Agus Harimurti Yudhoyono merupakan salah satu bakal calon gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2017.

Nama Agus diumumkan sebagai bakal calon gubernur pada Jumat (23/9/2016) dini hari, bertepatan dengan hari terakhir pendaftaran bakal pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI di Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta.

Agus diusung oleh Koalisi Cikeas yang terdiri dari empat partai politik, yakni Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Amanat Nasional (PAN). Ia didampingi Sylviana Murni sebagai bakal calon wakil gubernur, sosok yang telah memiliki banyak pengalaman di Pemprov DKI Jakarta.

Agus merupakan sosok yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam bursa nama-nama calon gubernur DKI Jakarta yang muncul ke publik. Selama ini, ia dikenal berkarier di dunia kemiliteran, mengikuti jejak ayahnya, Presiden Keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Saat ini Agus merupakan perwira menengah berpangkat Mayor Infanteri di TNI AD. Ia menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri Mekanis 203/Arya Kemuning.

Karier militer Agus dimulai setelah lulus dari SMA Taruna Nusantara pada 1997. Ia masuk Akademi Militer dan lulus pada tahun 2000 sebagai peraih Adhi Makayasa atau penghargaan tahunan untuk lulusan terbaik.

Selain berprestasi di Akademi Militer, Agus juga menjadi lulusan terbaik di sejumlah sekolah militer, seperti Kursus Dasar Petugas Infanteri (2001), Kursus Intelijen Tempur (2001), Kursus Petugas Operasi Batalyon (2004), dan Kursus Manuver Karir Kapten, Fort Benning (2011).

Pada 2006, Agus meraih gelar master pertamanya sebagai Master of Science in Strategic Studies dari S Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura. Ia kemudian meraih gelar Master of Public Administration dari John F Kennedy School of Government, Harvard University, Amerika Serikat, pada 2010.

Agus kembali menyelesaikan pendidikan master ketiganya sebagai Master of Arts dalam bidang Leadership and Management di George Herbert Walker School of Business and Technology, Webster University, pada 2015.

Dalam waktu bersamaan, Agus juga berhasil menyelesaikan pendidikan militernya selama satu tahun di US Army Command and General Staff College (CGSC), Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat, dengan Indeks Prestasi Kumulatif 4,0. Ia menerima lencana internasional dari Deputi Komandan CGSC Mayor Jenderal Hughes.

Sebelum menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri Mekanis 203/Arya Kemuning, Agus pernah menjalani sejumlah penugasan, seperti Kasi 2/Ops Brigade Infateri Lintas Udara 17, Kostrad (2011–2013), Analis Regional (Amerika Utara) pada Direktorat Jendral Strategi Pertahanan, Kementerian Pertahanan (2009–2011), serta Komandan Kompi, Batalyon Infanteri Lintas Udara 305, Kostrad (2007–2009).

Selain penugasan di dalam negeri, Agus juga pernah menjalani penugasan dan joint exercise di luar negeri, seperti Battalion S-3 (Operations), United Nations Peacekeeping Operations, Lebanon (2006–2007), Safkar Indopura Exercise, Singapura (2003), Cobra Gold Exercise, Thailand (2008), On the Job Training, Belanda (2011), Garuda Shield, Indonesia (2013), dan Wirra Jaya Ausindo, Indonesia.

Kini, Agus harus menghentikan kariernya di dunia militer setelah memutuskan untuk mengikuti Pilkada DKI 2017. Aturan tersebut tertuang dalam Pasal 7 Ayat 2 Huruf t Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Kepala Daerah. Anggota TNI harus mengundurkan diri setelah ditetapkan sebagai pasangan calon pada Pilkada.

Agus telah menyerahkan surat pengunduran dirinya pada Jumat (23/9/2016) dan telah diterima oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). TNI tengah memproses pengunduran diri Agus. Sesuai dengan aturan yang berlaku, akan ada prosesi pemberhentian dengan hormat yang bersangkutan di ujung proses tersebut. Jika nantinya Agus kalah dalam Pilkada 2017, ia tak bisa kembali ke posisi semula.

Agus mengatakan, keputusannya maju dalam Pilkada DKI karena ingin mengabdi untuk masyarakat Jakarta. Ia berharap diberi kepercayaan untuk membuat masyarakat Jakarta semakin maju, aman, tertib, meningkatkan perekonomian, kesejahteraan, dan mengurangi kesenjangan sosial.

"Saya memiliki tujuan yang baik, jika Allah SWT mengijinkan dan saudara saya, masyarakat Jakarta memberikan kepercayaan bersama bu Sylviana saya bertekad dan akan bekerja sekuat tenaga untuk memperbaiki Jakarta," kata Agus, Jumat (23/9/2016) malam.

Agus juga mengatakan keputusan untuk mengabdi pada masyarakat Jakarta tidak lepas dari peran TNI. Dari TNI, ia belajar untuk mengabdi tanpa mengenal batas waktu dan batas wilayah penugasan.

Profil

Sylviana Murni
Lahir  : Jakarta, 11 Oktober 1978
Panggilan : Sylvi
Agama : Islam

BIOGRAFI

Sylviana Murni menjadi satu-satunya bakal calon wakil gubernur yang berasal dari latar belakang birokrat atau pegawai negeri sipil (PNS) DKI pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017.

Dia diusung oleh Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Amanat Nasional (PAN) untuk mendampingi Agus Harimurti Yudhoyono.

Pengalamannya selama puluhan tahun sebagai birokrat menarik perhatian para penantang petahana, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Mulai dari Sandiaga Uno, Partai Gerindra, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), hingga kini empat partai politik pengusungnya.

Sylviana yang lahir di Jakarta, 11 Oktober 1958 itu mengawali pendidikan Hukum Administrasi Negara di Fakultas Hukum, Universitas Jayabaya, Jakarta. Kemudian menyelesaikan S2 di Fakultas Ekonomi Univesitas Indonesia dan S3 di Universitas Negeri Jakarta. Perempuan berusia 57 tahun ini mendapat gelar profesor dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta.

Namanya mulai dikenal saat tahun 1981, Sylviana dinobatkan sebagai None Jakarta. Saat itu, ia masih berusia 23 tahun dan duduk di semester akhir Fakultas Hukum Universitas Jayabaya.

Kiprah istri Gde Sardjana itu di Pemprov DKI Jakarta dimulai pada tahun 1985. Ia menjadi staf penatar Badan Pembinaan, Pendidikan, dan Pelaksanaan Pedoman Pemghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP-7) DKI selama dua tahun hingga tahun 1987. Kemudian Sylviana menjadi staf Biro Pembinaan Mental DKI Jakarta selama dua tahun, mulai dari tahun 1987-1989.

Kariernya terus menanjak menjadi Kepala Sub Bagian Pendidikan Luar Sekolah Biro Pembinaan Mental DKI Jakarta pada tahun 1989-1991. Kemudian Kepala Sub Bagian Seni Budaya Biro Pembinaan Mental DKI Jakarta pada tahun 1991-1995, Kepala Bagian Kebudayaan Biro Pembinaan Mental DKI Jakarta pada 1995-1997.

Sylviana juga pernah cuti dari PNS DKI dan menjadi politisi. Dia menjadi anggota DPRD DKI Jakarta dari Partai Golkar periode 1997-1999. Kemudian terbit peraturan pemerintah (PP) yang mengharuskan PNS tidak memihak atau netral dari partai politik. Akhirnya, Sylviana kembali memilih menjadi PNS DKI dan melepas jabatan anggota legislatifnya.

Pada tahun 1999-2001, Sylviana menjadi Kepala Biro Bina Sosial DKI Jakarta. Setelah itu, Sylviana menjadi Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta pada 2001-2004, Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta pada tahun 2004-2008, dan Wali Kota Jakarta Pusat mulai tahun 2008 hingga 2013. Sylviana merupakan perempuan pertama yang menjabat sebagai Wali Kota Jakarta Pusat.

Pada masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta (kini Presiden Republik Indonesia) Joko Widodo, Sylviana diangkat menjadi Asisten Sekda bidang Pemerintahan DKI Jakarta. Karena posisinya, ia sempat menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Jakarta Barat. Sylviana menggantikan posisi Burhanuddin, yang maju menjadi calon legislatif pada Pileg 2014.

Namanya semakin dikenal saat ia dilantik menjadi Plt Kepala Satpol PP DKI Jakarta menggantikan Effendi Anas yang pensiun. Jabatannya hanya berlangsung selama satu tahun, sampai akhirnya Jokowi melantik Kukuh Hadi Santoso sebagai Kepala Satpol PP DKI Jakarta.

Nama Sylviana juga masuk sebagai salah satu dari sembilan calon Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta. Posisi PNS nomor satu di DKI Jakarta kosong setelah Fadjar Panjaitan mengundurkan diri pada tahun 2013 lalu. Namun, harapan Sylviana kandas setelah ia dilantik menjadi Deputi Gubernur bidang Budaya dan Pariwisata DKI Jakarta. Posisi Sekda DKI Jakarta hingga kini diduduki oleh Saefullah.

Gagal menjadi Sekda DKI Jakarta, Sylviana yang juga aktif dalam keanggotaan berbagai organisasi dilirik menjadi calon wakil gubernur. Selain Sylviana, Saefullah juga dilirik oleh partai politik. Akhirnya, Sylviana lah yang diusung oleh empat partai politik dan diyakini mampu mendampingi Agus yang berlatar belakang militer.

Demi maju Pilkada DKI Jakarta 2017, Sylviana rela mengundurkan diri dari statusnya sebagai PNS DKI Jakarta yang telah membesarkan namanya. Sylviana mengundurkan diri pada Jumat (23/9/2016) lalu. Saat itu pula, pasangan Agus-Sylviana mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta.

Kini, Agus-Sylviana fokus untuk membuat program dan menarik simpati masyarakat Jakarta. Mereka bersaing dengan pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandiaga.

Profil

Basuki Tjahaja Purnama
Lahir  : Manggar, 29 Juni 1966
Panggilan : Ahok
Agama : Kristen

BIOGRAFI

Meski berstatus petahana, ini merupakan pertama kalinya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok maju sebagai calon gubernur DKI.

Pada Pilkada sebelumnya, Ahok masih berstatus sebagai calon wakil gubernur mendampingi Joko Widodo.

Saat itu, pasangan Jokowi-Ahok menjadi pemenang mengalahkan petahana, Fauzi Bowo. Sebelum menjabat Gubernur DKI, Ahok sudah pernah beberapa kali menduduki jabatan politik.

Karir politiknya dimulai pada 2004 saat ia mencalonkan diri sebagai calon legislatif untuk menjadi anggota DPRD di kampung halamannya, Kabupaten Belitung Timur.

Melalui Partai Perhimpunan Indonesia Baru, Ahok berhasil terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur.

Setahun menjabat, pada 2005, ia memutuskan maju pada Pilkada Belitung Timur sebagai calon bupati.

Diusung oleh Partai Perhimpunan Indonesia Baru, Ahok berhasil terpilih mejadi Bupati Belitung Timur.

Namun, baru belasan bulan menjabat, pada 2016, Ahok mengundurkan diri dari jabatannya.

Saat itu ia memutuskan ingin maju pada Pilkada Bangka Belitung 2007. Pada Pilkada Bangka Belitung 2007, Ahok dikalahkan oleh pesaingnya, Eko Maulana Ali.

Ahok sempat menggugat hasil Pilkada Babel ke Mahkamah Agung. Dalam permohonannya, MA menolak permohonan keberatan Ahok dan pasangannya, Eko Tjahjono.

Dua tahun berlalu, Ahok mencalonkan diri maju sebagai calon legislatif untuk menjadi anggota DPR RI pada Pemilu 2009. Melalui Partai Golkar, ia berhasil menjadi anggota DPR RI.

Ahok kemudian menjadi anggota Komisi II DPR RI. Tiga tahun berselang, Ahok memutuskan maju menjadi calon gubernur pada Pilkada DKI 2012 melalui jalur independen.

Namun, jumlah data KTP yang dikumpulkannya tak memenuhi syarat. Dalam perkembangannya, Ahok akhirnya diajukan Partai Gerindra untuk mendampingi calon gubernur yang diajukan PDI-P, yang juga Wali Kota Solo, Joko Widodo.

Keduanya pun maju pada Pilkada DKI 2012 dan memenangkan pemilihan dalam dua putaran.

Setelah menang pada Pilkada DKI 2012, Ahok mundur sebagai anggota DPR RI dan keluar dari keanggotaan Partai Golkar, untuk kemudian bergabung dengan Gerindra.

Ahok menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta selama sekitar dua tahun. Pada November 2014, ia naik jabatan menyusul terpilihnya Jokowi menjadi Presiden.

Tak lama sebelum dilantik menjadi gubernur, Ahok menyatakan keluar dari Partai Gerindra karena merasa tak sepaham dengan partai tersebut terkait proses pemilihan kepala daerah.

Selama menjabat Gubernur DKI, Ahok tak bergabung dengan partai manapun. Dalam persiapan menghadapi Pilkada DKI 2017, Ahok sempat menyatakan ingin maju melalui jalur independen. Melalui bantuan kelompok relawannya, "Teman Ahok", ia sudah memiliki modal 1 juta data KTP.

Namun dalam perkembangannya, Ahok akhirnya membatalkan niatnya maju melalui jalur independen menyusul datangnya dukungan dari Hanura, Golkar, dan Nasdem. Sehari sebelum dibukanya pendaftaran oleh KPU DKI, dukungan kepadanya juga datang dari PDI-P.

Ahok kemudian mendaftar sebagai calon gubernur dengan diusung empat partai. Pada Pilkada DKI 2017, Ahok menyebut secara garis besar visi misinya sama dengan visi misi saat dirinya maju mendampingi Joko Widodo pada Pilkada DKI 2012.

"Kami ingin kepala, dompet, sama perut warga Jakarta penuh," ujar Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (23/9/2016).

Otak penuh berarti pendidikan terjangkau dan berkualitas, mengembalikan tempat ibadah menjadi pusat kegiatan masyarakat, dan membuka semua data secara transparan guna meningkatkan partisipasi publik dengan berbagai program e-government.

Kemudian perut penuh berarti masyarakat menikmati makanan yang aman dan bergizi serta memperkuat BUMD sebagai penyeimbang harga dan menjaga suplai kebutuhan.

Sementara kantong penuh berarti pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan penghasilan dan subsidi di berbagai bidang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat agar sesuai kebutuhan hidup cukup.

Profil

Djarot Saiful Hidayat
Lahir  : Magelang, 6 Juli 1962
Panggilan : Djarot
Agama : Islam

BIOGRAFI

Pada Pilkada DKI 2017, Djarot Saiful Hidayat menjadi bakal calon wakil gubernur DKI mendampingi Basuki Tjahaja Purnama.

Sebelumnya, selama lebih kurang 2 tahun, Djarot juga menjadi wakil gubernur DKI Jakarta ketika Basuki naik menjadi gubernur DKI.

Pria kelahiran Magelang, 6 Juli 1962 ini menjadi politisi yang dipilih Ahok (sapaan Basuki) untuk menjadi wakil gubernur.

Ketika Ahok menjadi gubernur, kursi wakil gubernur memang sempat kosong selama hampir satu bulan. Ada sejumlah nama yang digadang untuk mendampingi Ahok. Dulu, penentuan nama wagub semoat berjalan alot.

PDI Perjuangan disebut mengajukan Ketua DPD PDI-P DKI Boy Sadikin. Nama Bambang Dwi Hartono juga masuk dalam bursa wagub DKI. Namun, Ahok lebih melirik wakil dari kalangan birokrat. Mantan Deputi Gubernur Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup DKI Sarwo Handayani mencuat sebagai kandidat kuat dalam mewujudkan Jakarta Baru.

Akhirnya calon wagub mengerucut pada dua nama, yaitu Djarot dan Boy. Dan Ahok pun memilih Djarot. Ketika itu, Ahok menilai Djarot patut dipertimbangkan karena pengalamannya selama 10 tahun menjadi wali kota Blitar. Selain itu, Ahok lebih mengenal Djarot dibandingkan Boy. Akhirnya, pada Rabu (17/12/2014), Djarot dilantik oleh Ahok dan membacakan sumpah jabatannya.

Dua tahun berselang, proses Pilkada DKI 2017 pun dimulai. Sekali lagi, Ahok berpasangan dengan Djarot untuk melanjutkan kursi pemerintahan mereka.

Rekam jejak

Djarot bukan orang baru dalam hal memimpin daerah. Dia merupakan politisi PDI-P yang pernah menjadi wali kota Blitar selama dua periode (2000-2010).

Bisa dibilang, politisi lulusan Universitas Brawijaya ini populer di Blitar karena dianggap mampu mengelola daerah dengan baik. Salah satu kebijakannya yang terkenal di sana adalah pembatasan pembangunan mal dan gedung pencakar langit.

Sejumlah penghargaan telah diraih, seperti anugerah Adipura selama tiga tahun berturut-turut dan penghargaan Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah tahun 2008.

Sementara itu, Djarot juga menjadi salah satu politisi elit di internal PDI-P. Dia menjadi ketua DPP PDI-P bidang organisasi dan keanggotaan sejak 2010 hingga sekarang. Setelah tidak lagi menjadi wali kota Blitar, Djarot juga pernah menjadi anggota DPR RI.

Rekam jejak Djarot ini, khususnya pengalamannya selama 10 tahun memimpin Blitar, telah membuat Ahok kepincut. Ini sebabnya Ahok memilih Djarot sebagai wakil gubernur pada 2014.

"Kenapa Pak Djarot yang dipilih, padahal di sini kan banyak orang baik. Ada Pak Boy, ada Bu Yani. Dalam proses itu, saya mengingat teori Abraham Lincoln. 'Cara mau menguji karakter asli seseorang adalah beri dia kekuasaan'. Nah, Pak Djarot ini pernah berkuasa selama 10 tahun," kata

Kepercayaan Ahok

Proses pencarian wakil gubernur untuk Ahok bisa dibilang selalu berjalan alot. Ahok juga berkali-kali menyebut sejumlah nama yang dia inginkan untuk menjadi wagub sebelum pendaftaran Pilkada DKI 2017 lalu.

Sejumlah nama disebut dari Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah DKI Heru Budihartono hingga penyanyi Maia Estianti. Namun, satu nama yang berkali-kali dia sebuat adalah Djarot. Ahok selalu mengungkapkan keinginannya untuk berpasangan dengan Djarot jika mendapat dukungan dari PDI-P. Ternyata, hal ini karena Ahok memiliki kesan yang baik terhadap Djarot.

"Dia (Djarot) jujur, enggak serakah, enggak macam-macam," kata Ahok.

Ahok mengaku telah mengenal Djarot sejak tahun 2005. Saat itu, Ahok menjabat Bupati Belitung Timur dan Djarot sebagai Wali Kota Blitar.
Ahok memuji kinerja Djarot yang tetap baik meskipun aktif menjadi pengurus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Djarot pun menjadi salah satu dari sedikit politisi yang diyakini Ahok sebagai orang yang bersih.

"Orangnya enggak macam-macam. Sekarang ini enggak ada niat mau nusuk orang, enggak ada, dan dia pasti bersih," kata Basuki.

Pada Rabu (21/9/2016), keinginan Ahok pun terwujud. Dia mendaftar ke KPU DKI bersama dengan Djarot yang menjadi calon wakil gubernurnya.

Profil

Anies Rasyid Baswedan
Lahir  : Kuningan, 7 Mei 1969
Panggilan : Anies Baswedan
Agama : Islam

BIOGRAFI

Anies Rasyid Baswedan  atau dikerap disapa Anies Baswedan merupakan salah satu bakal calon gubernur yang akan bertarung pada Pilkada DKI 2017. Anies diusung Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bersama dengan bakal calon wakil gubernur, Sandiaga Salahuddin Uno yang merupakan kader dari Gerindra.

Anies lahir 7 Mei 1969 di Kuningan, Jawa Barat. Namun, hampir seluruh pendidikannya dia habiskan di kota budaya, Yogyakarta.

Anies mengawali pendidikan di Fakultas Ekonomi, Universitas Gajah Mada. Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sempat dimasukinya untuk mengasah kemampuan  berorganisasi.

Tak hanya itu, Anies juga pernah menjabat sebagai Ketua Senat di UGM. Setelah lulus, Anies mendapatkan beasiswa S2 dan melanjutkan pendidikan masternya di University of Maryland, Amerika Serikat dengan mengambil jurusan Keamanan Internasional dan Kebijakan Ekonomi. Anies mendapatkan gelar master pada 1998.

Mencoba menjajal pendidikan di luar bidang yang selama ini ditekuni, Anies melanjutkan pendidikannya di Northern Illinois University pada tahun 1999 dengan memilih bidang Ilmu Politik. Sambil kuliah, Anies sempat bekerja sebagai asisten penelitian di kampusnya. Pada 2005, Anies mendapatkan gelar PhD.

Selang dua tahun lulus dari Nothern Illinois University, Anies diangkat sebagai rektor Universitas Paramadina. Diangkatnya Anies menjadi rektor Paramadina terbilang mengejutkan karena saat itu dirinya baru berumur 38 tahun atau menjadi rektor termuda di Indonesia.

Kemudian pada tahun 2009, Anies yang dikenal sebagai tokoh yang concern terhadap dunia pendidikan, mendirikan sebuah yayasan bernama "Indonesia Mengajar". Gerakan ini mengirimkan para pengajar muda untuk mengajar di wilayah terpencil di tanah air yang belum memiliki tenaga pengajar. Sejak saat itu, figur Anies semakin dikenal sebagai tokoh pendidikan.

Pada 2013, merupakan pengalaman pertama Anies menjajal dunia politik. Anies mengikuti konvensi Calon Presiden 2014 dari Partai Demokrat.

Saat itu Anies bersaing dengan tokoh-tokoh yang telah lama dikenal di elit pemerintahan. Figur tersebut diantaranya Irman Gusman, Dino Patti Djalal, Marzuki Alie hingga Gita Wirjawan. Anies menggebrak konvensi tersebut dengan sejumlah gagasan yang fokus terhadap ekonomi serta pendidikan. Sayang, tak ada yang memenangkan konvensi tersebut karena Demokrat tak memiliki kursi yang cukup untuk mengusung calon presiden.

Keinginan Anies untuk menambah pengalaman di dunia politik tak berhenti sampai di situ. Anies menjadi juru bicara tim pemenangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) pada Pilpres 2014. Gaya Anies mempromosikan pasangan Jokowi-JK  terbilang cukup ampuh memikat hati masyarakat. Pada 2014, pasangan Jokowi-JK terpilih menjadi Presiden-Wakil Presiden RI.

Kiprah Anies dalam dunia pendidikan membuat Presiden Jokowi kepincut mengikutsertakannya dalam kabinet kerja yang dia bangun. Anies diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayan pada 2014.

Namun, selama lebih kurang dua tahun menjabat sebagai Mendikbud, tampaknya Jokowi kurang puas dengan hasil kerja Anies. Pada 27 Juli 2016, Anies resmi digantikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Muhadjir Effendy. Digantikannya Anies menjadi pertanyaan besar bagi sejumlah kalangan, mengingat namanya tak pernah disinggung akan ikut dirombak.

Tak lagi menjabat sebagai Mendikbud tak membuat figur Anies luntur. Pada 23 September 2016, Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) meminang Anies untuk menjadi bakal calon Gubernur DKI berpasangan dengan Sandiaga Uno. Diumumkannya Anies sebagai bakal cagub terbilang mengejutkan. Sebelumnya, Sandiaga Uno yang digadang-gadang menjadi bakal cagub, sedangkan kader PKS, Mardani Ali Sera yang mendampingi Sandiaga menjadi bakal cawagub.

Kini, Anies bersama Sandiaga akan bertarung dengan dua pasangan lainnya, Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat yang diusung PDI-P, Golkar, Nasdem, Hanura. Serta pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni yang diusung Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Amanat Nasional (PAN). Patut ditunggu gagasan sang tokoh pendidikan untuk mengubah wajah Ibu Kota.

Profil

Sandiaga Uno
Lahir  : Rumbai, 28 Juni 1969
Panggilan : Sandiaga
Agama : Islam

BIOGRAFI

Sandiaga Salahuddin Uno tercatat sebagai salah satu pengusaha muda terkaya di Indonesia.

Pada 2015, Sandiaga melepaskan jabatan strategis di semua perusahaannya untuk bergabung dengan Partai Gerindra dan langsung menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra.

Sandiaga yang awalnya berkampanye untuk maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta, akhirnya dicalonkan sebagai calon wakil gubernur, mendampangi Anies Baswedan.

Sandiaga lahir di Rumbai, Riau pada 28 Juni 1969. Ia menghabiskan masa kecilnya di Jakarta Selatan, bersekolah di SD PSKD Bulungan, SMPN 12 Jakarta, dan SMA Pangudi Luhur.

Ia kemudian memilih kuliah di Amerika Serikat, menempuh jurusan akuntasi di The Wichita State University, dan melanjutkan masternya di The George Washington University pada jurusan bisnis internasional dan keuangan, lulus dengan IPK 4.00 pada 1992.

Setahun kemudian, Sandiaga pindah ke Singapura dan bergabung dengan perusahaan Seapower Asia Investment Limited sebagai manajer investasi, sekaligus di MP Holding Limited Group.

Lalu pada 1995, Sandiaga pindah ke Kanada dan bekerja di NTI Resources Ltd sebagai Executive Vice President.

Setelah perusahaan itu bangkrut, Sandiaga kembali ke Indonesia untuk mencari pekerjaan.

Bersama Rosan Perkasa Roeslan, Sandiaga mendirikan perusahaan konsultasi keuangan PT Recapital Advisors pada 1997. Karir Sandiaga melesat dan ia mendirikan beberapa perusahaan lainnya.

Pada 2004-2015, Sandiaga menjadi Presiden Direktur PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. Tahun 2007-2015, ia juga menjabat Direktur di PT Adaro Energy Tbk.

Pada 2008, Sandiaga dianugerahi Indonesian Entrepeneur of the Year oleh Enterprise Asia, sekaligus Asia 21 Fellowship oleh The Asia 21 Network Society.

Tahun 2009-2010, Sandiaga menjabat sebagai Komisaris di PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk. Ia juga menjadi Komisaris di PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk pada 2010-2013.

Pria yang memiliki hobi basket dan lari marathon ini juga aktif berorganisasi mulai dari menjadi manajer tim nasional bola basket putri di Sea Games Manila pada 2005, Ketua Umum HIPMI pada 2005-2008, anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) pada 2016.

Sandiaga juga sempat menjadi Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang UMKM, Koperasi, dan Industri Kreatif, namun dilepasnya pada 2016 ketika ia memulai kampanye sebagai bakal calon gubernur DKI.

Sandiaga juga baru menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Pelita Harapan pada 2016.

HITUNG CEPAT PILKADA DKI JAKARTA 2017
Agus
Sylvi
17,37
Basuki
Djarot
42,87
Anies
Sandi
39,76
Sumber: LITBANG KOMPAS
Sample Masuk (100 %) Suara Sah : 77.06 % Suara Tidak Sah : 0.97 % Suara Tidak Digunakan : 21.98 % Hitung cepat bukan hasil resmi KPU

Djarot dan Hasto Apresiasi Film "Bid'ah Cinta" yang Ajarkan Toleransi

"Ini bagus banget. Saya beri apresiasi sama Bang Nurman ketika sekarang ini mulai ada gejala intolerensi di masyarakat kita," ujar Djarot.

Djarot dan Hasto Apresiasi Film

Ahok: Seandainya Tuhan Izinkan Tidak Jadi Pun....

Pada kesempatan itu, Ahok sempat membahas berbagai upaya yang tengah dilakukannya untuk memperjuangkan nasib guru-guru non-PNS di Jakarta.

Ahok: Seandainya Tuhan Izinkan Tidak Jadi Pun....

Ahok: Saya Tahu Oknum Guru PNS yang Jelek-jelekin Saya di Sekolah

Ahok menuding, para guru PNS yang kerap menjelek-jelekannya adalah mereka yang kinerjanya buruk.

Ahok: Saya Tahu Oknum Guru PNS yang Jelek-jelekin Saya di Sekolah

PETA KEKUATAN CALON GUBERNUR

AGUS
SYLVI
1
28 kursi
PPP(10)
Demokrat(10)
PKB(6)
PAN(2)
BASUKI
DJAROT
2
52 kursi
PDIP(28)
Hanura(10)
Golkar(9)
Nasdem(5)
ANIES
SANDI
3
22 kursi
Gerinda (15)
PKS (11)

Cari Pemimpinmu

Apakah Visi dan Misi calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur DKI Jakarta sudah sesuai dengan harapan Anda?
Mari cari tahu dengan memainkan kuis interaktif berikut ini.

IKUTI KUIS
KATA PARA KANDIDAT
TENTANG ISU
Agus Harimurti Yudhoyono
"Banyak caranya, yang jelas kami harus kendalikan jumlah kendaraan pribadi di jalan raya. Sekaligus menambah kapasitas public transportation."
Basuki Tjahaja Purnama
"Kami juga mau bangun LRT (light rail transit), LRT sambung lagi tahun depan. Jadi tahun depan bisa tambah macet lagi. Saya pilih lebih macet enggak apa-apa deh, yang penting ada jalur evakuasi,"
Anies Rasyid Baswedan
"Kami membuat orang mau naik angkutan bersama-sama. Angkutan umumnya harus dibuat nyaman dan harganya terjangkau. Kami juga akan meningkatkan kualitas kendaraan umum di Jakarta,"
Sylviana Murni
"Ya pasti ada solusinya (atasi kemacetan), karena enggak ada permasalahan di Jakarta tanpa solusi. Kita bisa duduk bareng masyarakat dan ahli transportasi"
Djarot Saiful Hidayat
"Ibu-ibu mau enggak macet? Gampang. Caranya pakai bus Transjakarta saja. Kami sediakan transportasi umum yang baik supaya selamat, murah dan aman,"
Sandiaga Uno
"Merangsang perubahan perilaku ya harus dimulai dari gerakan-gerakan. Semua warga ikut pimpinannya. Kalau kepilih nanti, saya seminggu sekali akan jalan kaki ke kantor,"