Sabtu, 26 Juli 2014
Selamat Datang   |    Register   |  

Jokowi: Tim Ahli Saya Masyarakat Jakarta

Erlangga Djumena | Sabtu, 29 September 2012 | 05:09 WIB
Dibaca:   Komentar:
KOMPAS.com/M WISMABRATA
Joko Widodo saat menerima tamu di rumah dinasnya, Loji Gandrung.

SOLO, KOMPAS.com Selain ngobrol soal perjuangannya hingga memenangi Pilkada DKI Jakarta, saat bertemu redaksi Tribun Jogja di Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota Solo pada Rabu (26/9/2012), Joko Widodo juga membeberkan rencana strategis yang akan dikerjakan dalam 100 hari pertama hingga lima tahun mendatang.

Berikut cuplikan wawancara eksklusif Tribun Jogja yang ditulis Ade Rizal dengan laki-laki yang akrab dipanggil Jokowi itu.

Setelah dilantik pada 6 Oktober mendatang, apa yang akan Anda lakukan dalam 100 hari pertama?
Untuk transjakarta, dalam 100 hari pertama, tentu jumlah armadanya akan kami tambah. Tapi, tidak akan bisa mencapai sesuai yang kami harapkan karena kami masih bergantung pada anggaran lama. Sedangkan APBD perubahan juga sudah digodok.

Karena itu, kami akan lebih pada perbaikan management traffic transjakarta. Menata manajemen transjakarta enggak bisa monoton. Manajemen trayek harus detail. Kita harus mengubah yang seperti itu.

Misalnya jalur Blok M ke Kota, mestinya jumlah armada ditambah pada jam-jam sibuk karena load-nya sangat tinggi. Caranya, pada pagi hari (saat jam sibuk) mengalihkan bus dari jalur sepi ke jalur Blok M-Kota. Nanti, saat siang dikembalikan ke jalur asalnya, kemudian pada jam sibuk sore ditarik lagi.

Selain itu, di 100 hari pertama, kami akan mencoba menghilangkan terminal bayangan dan meningkatkan ketertiban. Kami punya banyak pengalaman di sini (Solo). Paling tidak, di 100 hari pertama ini tahapan manajemennya sudah kami  lakukan.

Soal monorel yang tiangnya sudah ada, apa akan Anda lanjutkan?
Iya, pasti akan kami lanjutkan. Di 100 hari pertama, semuanya (yang mengusulkan konsep monorel) akan saya datangi. Akan saya minta presentasi semuanya. Pokoknya cepet-cepetan. Saya enggak mau diskusi lama-lama lagi. Itu kan tinggal menentukan saja, mana yang akan dieksekusi, barang yang mau dipakai mana.

Bagaimana Anda menentukan pihak yang akan digandeng mengerjakan monorel?
Yang paling utama, karcis mau kamu kasih harga berapa? Visibel enggak buat masyarakat? Masyarakat mampu beli enggak? Kalau memang bisa beli (karcis yang ditawarkan pengelola), jalan, enggak usah lama-lama, saya enggak mau berlama-lama. Yang penting rakyat terlayani, karena produk pemerintah ini kan produk pelayanan.

Saya tidak peduli, siapa nanti yang akan mengerjakan atau pemilik proyeknya. Yang penting monorel dilaksanakan, masyarakat terbantu dan karcisnya tidak membebani.

Menurut Anda, konsep monorel seperti apa yang paling visibel?
Ada beberapa alternatif, bisa monorel kapsul, elevated bus, atau railbus. Kalau jalurnya, ya yang sudah direncanakan itu. Tapi, dari semua bentuk monorail yang ada, paling bagus tipe kapsul. Dibandingkan dengan yang lain, harganya hanya separuh, jauh lebih murah.

Tiangnya juga kecil sehingga konstruksinya lebih murah. Daya angkutnya memang cuma 20.000, tapi kan bisa disiasati dengan management traffic yang bagus. Frekuensi jalan harus banyak sehingga tiap tiga menit nongol di halte.

Estimasi Anda, kapan monorel bisa dioperasikan?
Untuk monorel paling lama empat tahun (2016) sudah bisa beroperasi. Kalau MRT (mass rapid transit) bisa sampai sembilan tahun baru bisa dinikmati di Jakarta. Tapi, semua harus dimulai dan tahapannya terukur.

Mungkin nanti pada tahun pertama, MRT baru rampung 10 persen, kemudian tahun kedua mencapai 25 persen dan seterusnya. Paling enggak, lima tahun nanti sudah selesai 60 persen, selanjutnya tinggal meneruskan. Yang penting, ada ukurannya dan ada progress-nya.

Selain soal transportasi, pada 100 hari pertama, Anda langsung dihadang persoalan banjir, karena saat itu sudah memasuki musim penghujan. Apa yang akan Anda lakukan, padahal soal banjir tidak bisa diutak-atik secara instan seperti transjakarta?
Ini yang sedang saya pikirkan. Setelah saya dilantik, belum bisa melakukan kerja teknis, tapi banjirnya sudah datang. Meski sudah ada perencanaan pengendalian banjir dan saya punya gagasan-gagasan untuk itu, tapi pengerjaannya kan tidak bisa langsung pada Oktober. Butuh waktu.

Bisa dijelaskan rencana yang Anda lakukan untuk pengendalian banjir?
Penyelesaian masalah banjir hanya menjalankan blueprint yang sudah ada, dan itu sudah dilakukan sejak zaman Belanda. Prinsip dasarnya, yang paling awal dilakukan adalah optimalisasi Kanal Banjir Barat, Timur, dan Sistem Drainase Cengkareng, dibarengi pengerukan anak sungai yang mengalir ke kanal barat, timur, dan Cengkareng itu. Pekerjaan itu harus simultan dengan pembuatan embung (bozem) di setiap kecamatan dan optimalisasi pompa banjir.

Yang paling mendesak adalah pengerukan sungai karena saat ini anak sungai-anak sungai di Jakarta yang seharusnya berkedalaman tiga meter lebih, hanya tinggal 60 sentimeter. Ini harus dikeruk sehingga kedalamannya menjadi normal. Kemudian tanggul sungai harus ditinggikan. Pengerukan itu akan dilakukan simultan dengan penataan rumah-rumah yang berdiri di bantaran sungai.

Anda optimistis bisa melakukan secara simultan, antara optimalisasi sungai dan penataan rumah di bantaran sungai?
Sangat optimistis. Sebab, saat ini sudah banyak yang mau membantu. Kemenpera (Kementerian Perumahan Rakyat) mau bantu, Perumnas juga mau bantu, tinggal komunikasi saja. Nanti akan saya sambungkan semuanya antara pihak-pihak yang terkait.

Saya kan enggak mikir kepentingan, enggak mikir proyek, jadi enak saja menyambungkan antarmereka. Kalau mikir kepentingan, apalagi proyek, enggak akan jalan. Yang paling penting lagi, masyarakat di bantaran sungai dan sejumlah tempat yang harus ditata, sudah mau ditata. Ini kan soal komunikasi saja.  

Bagaimana konsep yang Anda tawarkan untuk penataan perumahan, utamanya mereka yang tinggal di bantaran sungai?
Yang perlu digarisbawahi, konsep dasar penataan bukan dari saya, tapi ditawarkan masyarakat. Saya sudah telusuri Sungai Ciliwung dan sejumlah sungai lain, dan sebanyak 870 KK di sana menyatakan siap direlokasi Pak Jokowi. Mereka tidak mau direlokasi ke daerah lain karena penghidupannya di sekitar lokasi itu.

Solusinya, mereka yang ada di bantaran sungai akan dimundurkan 10 hingga 20 meter, kemudian tinggal di atas rumah tetangganya. Ini yang disebut dengan Kampung Deret. Kemudian lahan di bantaran sungai lebarnya 10 meter itu akan dihijaukan, ditambah jogging track.

Kami tidak menawarkan relokasi ke tempat lain atau pindah ke rusun karena mereka akan dibebani biaya sewa, bayar listrik, dan bayar air. Dengan membangun kampung deret, mereka hanya pindah, tanpa membeli. Bahkan, mereka akan diberi sertifikat hak guna.

Kalau gratis, bagaimana dengan pembiayaannya?
Ya dari APBD. Sudah saya hitung-hitung, hanya butuh Rp 1,4 triliun. Itu kan hanya sedikit persen dari total APBD Jakarta. Karena biaya itu baru bisa kami anggarkan pada APBD 2013, untuk 100 hari pertama nanti, kami akan menyelesaikan proses nonteknis, dan konstruksi baru dimulai Januari 2013.

Berarti akan ada proyek triliunan?
Proyek dalam makna ditenderkan tidak. Sebab, pembangunan Kampung Deret tidak akan kami tenderkan dan dikerjakan kontraktor pihak ketiga, tapi dibangun rakyat sendiri, sehingga murah dan bisa menghemat anggaran hingga 40 persen. Kelompok warga akan terlibat mulai dari merencanakan teknis pembangunan, membeli material, hingga membangun. Rakyat akan jadi kontraktor sendiri, ngontraktori sendiri.

Anda terlihat begitu fasih berbicara soal masalah sekaligus solusi untuk masyarakat Jakarta. Apa Anda punya tim ahli yang khusus memasok data dan gagasan-gagasan itu?
Tidak, tidak ada tim ahli. Saya hanya belajar enam bulan soal Jakarta. Saya tidak membaca buku atau hasil penelitian dan semacamnya, tapi saya langsung mendatangi warga, berdialog dengan mereka, dan mendengarkan masalah-masalah yang dihadapi sekaligus gagasan mereka. Setelah itu, saya memformulasikannya. Jadi, kalau ditanya siapa tim ahli yang memasok gagasan-gagasan itu, ya masyarakat, rakyat Jakarta.

© 2012 KOMPAS.com - All rights reserved