Senin, 28 Juli 2014
Selamat Datang   |    Register   |  

Beda Jokowi dan Fauzi Menurut Faisal Basri

Robertus Belarminus | Heru Margianto | Sabtu, 22 September 2012 | 20:12 WIB
Dibaca:   Komentar:
KOMPAS.com/ANDREAN KRISTIANTO
Faisal Basri hadir dalam acara Rembug Suara Perempuan untuk Pemilukada DKI Jakarta di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Jumat (6/7/2012). Rembug suara perempuan merupakan suatu ruang bagi perempuan di DKI jakarta untuk dapat berdialog, bersuara, dan menyampaikan persoalan mereka kepada calon gubernur DKI Jakarta.

JAKARTA, KOMPAS.com - Visi dan misi yang didengungkan para kandidat calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta dalam pemilihan umum kepala daerah yang baru saja lewa terbilang hampir semuanya sama. Mereka bicara kemacetan, banjir, sampai lapangan pekerjaan.

Lantas, jika semua bicara soal masalah yang sama, apa yang membedakan pasangan Jokowi-Basuki yang unggul berdasarkan perhitungan cepat berbagai lembaga survei?

"Ada dua hal. Yang pertama memang masyarakat Jakarta ingin perubahan. Kedua, soal prioritas," kata Faisal, yang ditemui usai acara, "Diskusi dengan Faisal Basri: Kita untuk Indonesia, Bisa Apa?", di Jakarta, Sabtu (22/9/2012). Faisal adalah calon independen yang gugur pada putaran pertama. Pasangan Faisal Basri-Biem Benyamin hanya memperoleh 4,98 persen suara warga Jakarta.

Menurut Faisal, figur Fauzi atau Foke cenderung lekat dengan preferensi kalangan menengah atas. Berbeda dengan Jokowi yang terlihat merakyat. "Kalau Jokowi lebih ke arah bawah, di sini saja rohnya sudah berbeda. Prioritas Jokowi juga jelas yang dibidik itu siapa," ujar Faisal.

Ia menilai, visi Foke lebih terarah pada pembangunan kota yang modern, tetapi mengesampingkan rakyat kecil. Pembangunan Jakarta dalam visi Foke hanya dapat dinikmati oleh kelompok masyarakat kalangan atas.

Ketika ditanya apakah Jokowi mampu memimpin Jakarta dengan berbagai kompleksitas masalah yang ada, Faisal enggan menilai lebih jauh. "Masalah Jakarta hampir sama dengan kota-kota besar di dunia yang mempunyai problematika seperti macet, polusi, banjir, lapangan kerja. Kalau saya enggak mau membanyangkan hal yang pesimis. Kalau Jokowi bisa menjadi dirinya sendiri, tidak terkooptasi dengan kepentingan partai politik, saya rasa bisa mewujudkan harapan masyarakat Jakarta," kata Faisal.

© 2012 KOMPAS.com - All rights reserved