Kamis, 24 April 2014
Selamat Datang   |    Register   |  

Partisipasi Pemilih Meningkat

| Jumat, 21 September 2012 | 03:03 WIB
Dibaca:   Komentar:

Jakarta, Kompas - Secara keseluruhan, partisipasi pemilih dalam Pilkada DKI Jakarta putaran kedua meningkat. Hitung cepat Litbang Kompas menunjukkan partisipasi pemilih naik sekitar 2 persen, yaitu dari 63,62 persen pada putaran I menjadi 65,52 persen pada putaran II.

Adapun jumlah yang tidak berpartisipasi sebesar 34,48 persen atau sekitar 2,4 juta pemilih, menurun dibandingkan dengan putaran pertama (36,38 persen).

Kondisi ini seperti terpantau pada beberapa tempat pemungutan suara (TPS) di wilayah Jakarta Timur. Di TPS 29, Batu Ampar, Kramat Jati, tempat calon wakil gubernur Nachrowi Ramli menggunakan hak suaranya, tingkat partisipasinya naik 16 persen.

Pada putaran pertama, pemilih yang datang ke TPS 29 sebanyak 267 orang, sedangkan putaran kedua 318 orang. Jumlah pemilih terdata di daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 479 orang.

Di kampung Tanah Merah, Kelurahan Rawa Badak Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, warga bahkan sudah mendatangi TPS sejak pagi. Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) TPS 66 Kampung Tanah Merah, Rawa Badak Selatan, Koja, Naman merasa tidak menemui kendala dalam pelaksanaan pemungutan suara.

Slamet (38), warga RT 008 RW 004, Kelurahan Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (20/9), mengaku antusias memberikan suara. Bahkan, banyak yang datang pagi sebelum TPS buka. Warga juga tidak terpengaruh dengan berbagai isu negatif yang muncul menjelang putaran kedua.

Selepas melihat hasil hitung cepat, warga juga tak mempermasalahkan siapa yang menang. Mereka hanya berharap siapa pun yang menjadi gubernur bisa memperbaiki kehidupan mereka. ”Siapa pun yang jadi, kami ingin Jakarta yang lebih baik,” kata Roy Mangindaan, warga RT 001 RW 014, Muara Karang, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.

Menurut Roy, warga sangat antusias memberikan suaranya. Dari 584 pemilik suara di RT 001 RW 014, sebanyak 418 di antaranya menggunakan suara pada putaran kedua.

Di Jakarta Selatan, rata-rata pemilih yang menggunakan haknya bahkan di atas 70 persen. Beberapa pemilih mengaku tergerak memilih karena merasa ada calon pemimpin yang membuatnya terpikat.

”Waktu masih banyak calon di putaran pertama kemarin malah enggak nyoblos, malas. Tetapi, beberapa minggu terakhir saya mulai banyak mengikuti berita tentang kedua calon dan tertarik nyoblos,” kata Alexia (28), warga Pondok Indah.

Aman

Dari pantauan di sejumlah daerah, baik waktu pemilihan maupun seusai pemilihan, suasana Jakarta terlihat aman. Di kawasan bekas kebakaran di RT 008/009 RW 001, Kelurahan Tanah Sereal, Kecamatan Tambora, dan di RT 004 RW 002, Kelurahan Tambora, Kecamatan Tambora, warga menyatakan bisa memilih dengan bebas.

”Kami bisa memilih sesuai keinginan, tidak ada yang mengancam atau mengintimidasi. Warga, meski berbeda pilihan, juga tidak ada masalah,” kata Aceng (50), warga RT 004 RW 002, Kelurahan Tambora.

Menurut Aceng, sebelum pemilihan memang sempat ada rumor meresahkan. ”Tapi kami tidak takut, kami tetap memilih,” kata Aceng di TPS 04.

Peran banyak pihak

Hal ini juga tidak terlepas dari peran banyak pihak. Petugas KPPS di TPS 15 Kelurahan Gedong, Kecamatan Pasar Rebo, misalnya, berupaya meningkatkan partisipasi pemilih dengan menggelar hiburan musik di TPS yang disajikan pemusik jalanan.

”Pada putaran pertama, tingkat partisipasi di TPS hanya 68 persen dari 531 pemilih dalam DPT. Putaran kedua, jumlah pemilih yang datang mencapai hampir 70 persen,” kata Ketua KPPS TPS 15 Eddy Suyono.

Untuk meningkatkan partisipasi pemilih, petugas di TPS 22 Kelurahan Kenari, Kecamatan Senen, juga sempat mendatangi dua pasien yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Kedua pasien itu sedang menderita sakit ginjal.

Gubernur nilai antusias

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo saat meninjau ke sejumlah TPS menilai, masyarakat antusias mengikuti pilkada putaran kedua.

”Ini barangkali boleh dikatakan kesadaran berdemokrasi masyarakat tinggi karena kita lihat tadi kegembiraan masyarakat dan rasa cinta mereka pada persatuan. Meskipun platform politik mereka berseberangan, warga tetap menjaga kerukunan,” kata Fauzi.

Sementara itu, Manajer Riset Lingkaran Survei Indonesia Setia Darma menilai, peningkatan partisipasi pemilih tergolong tidak terlalu signifikan karena masih sama dengan Pilkada DKI 2007, yaitu 65 persen. ”Hanya ada peningkatan sedikit,” katanya.

Berdasarkan pengaduan yang masuk ke Kompas, tidak signifikannya peningkatan partisipasi pemilih bisa juga diakibatkan masih lemahnya sistem pendaftaran pemilih. Sejumlah warga mengeluhkan, mereka tidak bisa memilih pada putaran kedua, padahal pada putaran pertama bisa memberikan s uara.

(FRO/RWN/MDN/RAY/NEL/ART)

© 2012 KOMPAS.com - All rights reserved