Senin, 1 September 2014
Selamat Datang   |    Register   |  

Megawati: Lebih Baik Pindah Daerah atau Pindah Partai?

Sandro Gatra | A. Wisnubrata | Kamis, 20 September 2012 | 13:55 WIB
Dibaca:   Komentar:
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Calon gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (kiri) mendamping Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri, Puan Maharani, dan Taufik Kiemas menuju Tempat Pemungutan Suara pada putaran kedua Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2012 di Kebagusan, Jakarta Selatan, Kamis (20/9/2012). Pilkada DKI Jakarta 2012 putaran kedua diikuti dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yaitu Joko Widodo - Basuki Tjahaja Purnama dan Fauzi Bowo - Nachrowi Ramli.

JAKARTA, KOMPAS.com - Berbagai kalangan, termasuk dari pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara), mengkritik langkah Joko Widodo alias Jokowi yang maju dalam Pilkada DKI Jakarta 2012 . Pasalnya, Jokowi masih menjabat sebagai Walikota Surakarta sampai 2015 .

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri angkat bicara atas kritikan itu. Menurut Megawati, majunya Jokowi di Pilkada Jakarta adalah perintahnya, bukan atas permintaan pribadi Jokowi. Sebagai kader PDIP, kata Megawati, Jokowi harus siap ditempatkan di mana saja.

"Beliau (Jokowi) saya katakan sudah saatnya (pindah ke Jakarta). Karena kalau nunggu di Solo terus, kan habis waktunya di Jakarta. Kenapa selalu dibilang setengah jalan dan sebagainya?" kata Megawati ketika jumpa pers seusai menggunakan hak pilih di kediamananya di Kebagusan, Jakarta Selatan, Kamis (20/9/2012).

Ikut dalam jumpa pers Jokowi, Ketua DPP PDIP Puan Maharani dan Maruarar Siarit, keluarga Megawati, serta tim sukses.

Megawati membandingkan sikap Jokowi yang pindah memimpin daerah dengan politisi yang pindah partai. Bahkan, tanpa menyebut nama, Megawati menyebut banyak kader PDIP yang pindah parpol, bahkan setelah terpilih menjadi kepala daerah.

"Mana lebih baik orang pindah menjadi kepala daerah daripada pindah-pindah partai? Banyak dari PDIP pindah partai, kenapa tidak diomongkan? Yang diomongkan Jokowi kenapa setengah jalan? Mari kita bicara dengan hati nurani. Tapi kita seringkali menutup diri," pungkas mantan Presiden itu.

© 2012 KOMPAS.com - All rights reserved