Selasa, 2 September 2014
Selamat Datang   |    Register   |  

Jokowi Sentil Isu Kecurangan Pilkada

Sabrina Asril | Ervan Hardoko | Kamis, 20 September 2012 | 09:43 WIB
Dibaca:   Komentar:
Kompas/Alif Ichwan
Megawati dan Jokowi -Mantan Presiden RI yang juga Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri (kiri depan) berjalan bersama dengan Calon Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (kedua kiri), Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

JAKARTA, KOMPAS.com — Calon gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo atau Jokowi, mengatakan, banyak praktik kecurangan terjadi menjelang pemungutan suara berlangsung, Kamis (20/9/2012) pagi ini.

Untuk itu, tim Jokowi-Basuki akan lebih mengetatkan pengawasan saksi di setiap tempat pemungutan suara (TPS).

"Menjelang hari H ini memang ada yang mendatangi warga dengan uang, sembako murah. Ada juga yang selebaran-selebaran, yang ada sejak kemarin-kemarin," kata Jokowi, Kamis (20/9/2012) pagi, saat dijumpai di "Rumah Saya", Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Selain itu, Jokowi menyebutkan, ada beberapa warga yang tidak mendapatkan undangan memilih. Namun, setelah tim Jokowi-Basuki mendatangi ke lapangan, akhirnya pengurus RT/RW memberikan undangan yang sebelumnya diduga ditahan tersebut.

Menurut Jokowi, seharusnya di masa tenang ini, tidak ada praktik-praktik kecurangan itu.

"Ya, harusnya hari tenang, ya, tenang-tenang saja," ujarnya.

Dengan adanya praktik kecurangan ini, Jokowi mengakui timnya menambah jumlah saksi di setiap TPS.

"Relawan akan ditambah tiga kali lebih banyak," katanya.

Jika dalam putaran pertama setiap TPS dikerahkan lima saksi, dalam putaran kedua kali ini akan dikerahkan 15 saksi.

Para saksi, lanjut Jokowi, juga akan mengantisipasi potensi kecurangan yang terjadi di tingkat kecamatan saat kertas suara diantar.

"Terakhir, saya mengajak warga berbondong-bondong ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya. Kalau belum dapat undangan, bisa datang ke TPS membawa kartu tanda penduduk," katanya.

© 2012 KOMPAS.com - All rights reserved