Sabtu, 1 November 2014
Selamat Datang   |    Register   |  

Jokowi: Program Transportasi Tinggal Niat dan Eksekusi dari Pemimpin

Imanuel More | Laksono Hari W | Sabtu, 15 September 2012 | 00:00 WIB
Dibaca:   Komentar:
KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA
Joko Widodo, calon gubernur DKI Jakarta berkampanye dengan mengunjungi warga di Kota Bambu Selatan, Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (14/9/2012). Pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) putaran kedua ini, pasangan Joko Widodo-Basuki T Purnama akan berhadapan dengan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli untuk memperebutkan kursi gubernur DKI Jakarta.

JAKARTA, KOMPAS.com — Calon gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, menilai program transportasi makro di Jakarta sudah memiliki perencanaan yang cukup jelas. Menurutnya, yang dibutuhkan Jakarta saat ini adalah pemimpin yang mampu melaksanakan program dan perencanaan yang telah tersedia.

"Kita tahu MRT itu blue print-nya sudah ada sejak 20 tahun lalu. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang punya niat dan mau eksekusi. Segera melaksanakan itu, kemudian dikawal dengan manajemen kontrol yang baik," ujar pria yang biasa disapa Jokowi itu dalam acara debat kandidat cagub-cawagub DKI Jakarta yang digelar di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (14/9/2012) malam

Ia menambahkan, hingga kini tiang pancang proyek tersebut belum juga terlihat. Wajar bila masyarakat menilai ada pengabaian terhadap penanganan transportasi makro dan upaya penguraian kemacetan. Jokowi menyatakan, jika terpilih sebagai gubernur, maka ia akan melaksanakan rencana yang sudah ada dengan sedikit pengembangan.

Dengan menggunakan alat peraga gambar, Wali Kota Solo itu menunjukkan beberapa rencana proyek monorel yang ingin dilaksanakan di Jakarta. Salah satu yang diandalkannya adalah monorel kapsul. "Titik-titiknya sudah ada. Sangat simpel, tidak ada pembebasan lahan, lebih murah dibandingkan dengan yang lain. Bisa dibangun di median jalan atau di kedua sisi jalan," ujar Jokowi.

Menurut Jokowi, proyek transportasi massal seperti ini penting untuk dilaksanakan karena bisa mengangkut lebih banyak orang. Oleh karena itu, ia merasa heran karena proyek-proyek yang sebenarnya sudah direncanakan cukup lama itu belum terealisasi.

Sementara itu, calon wakil gubernur pasangannya, Basuki Tjahaja Purnama, mengatakan, program transportasi massal seharusnya terintegrasi dengan program penataan permukiman. Ia mencontohkan, dibukanya jalur-jalur busway seharusnya bisa mengakomodasi kepentingan masyarakat sederhana.

"Di jalur-jalur busway sebenarnya dibangun juga rumah susun sederhana. Jadi pola transportasi terhubung dengan permukiman. Ini yang belum terlihat dari pemerintah DKI sampai saat ini," ujar Basuki.

© 2012 KOMPAS.com - All rights reserved