Kamis, 21 Agustus 2014
Selamat Datang   |    Register   |  

Iwa K: Perjalanan Jokowi Masih Panjang

Irfan Maullana | Ati Kamil | Rabu, 11 Juli 2012 | 21:46 WIB
KOMPAS.COM/IRFAN MAULLANA
Iwa K

JAKARTA, KOMPAS.com -- Menang di putaran pertama Pilkada DKI Jakarta 2012-2017, Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebaiknya tak lekas puas. Begitulah harapan Iwa K. Menurut sang rapper, perjalanan Jokowi untuk duduk di DKI 1 masih panjang.

"Perjalanan masih jauh, artinya alhamdulillah empati masyarakat Jakarta mulai terlihat, enggak yang hanya desas-desus cuma manfaatin gimmick lah," tutur Iwa dalam wawancara usai tayangan langsung Quick Count di Studio Orange, Kompas TV, Jakarta, Rabu (11/7/2012). "Semoga di putaran kedua nanti masyarakat membuktikan kedewasaannya," lanjutnya.

Kemenangan Jokowi di putaran pertama dengan perolehan suara 42,58 persen versi quick count (penghitungan cepat) menurut Iwa tak lepas dari empati yang berhasil dibangun oleh Wali Kota Solo tersebut. "Ya, gue kebetulan baru bergabung di PDIP tahun ini. Untung saja pas Jokowi jadi calon dari PDIP. Buat gue, jadi enggak salah banget. Gue suka figur itu karena memang, pas dia di Solo, acara musik rock dapat tempat banget, pedagang kaki lima juga tertib. Jokowi memang menertibkan, tapi dia memanusiakan manusia," ulas Iwa.

Ibarat pemain sepak bola, Jokowi dianggap Iwa bisa bermain cantik untuk mencetak gol. "Istilahnya, ada pemain bola yang memikirkan yang penting gol, tapi ada juga pemain bola yang bikin gol dengan bermain cantik, ikutin etika bermain bola. Nah, itu ada di Jokowi. Seperti pemain bola sama coach-nya lah. Andre Villas-Boas (pelatih sepak bola dari Portugal) mau jago kayak apa pun kalau tidak dapat empati dari pemainnya ya sudah beres, nothing. Gue ambil analogi seperti itu. Yang terpenting adalah bagaimana bekerja sama dengan timnya atau masyarakatnya," ulasnya lagi.

Jika kelak Jokowi berhasil unggul dalam putaran kedua pada September 2012, Iwa tak akan ragu kepadanya untuk memimpin Jakarta. "Artinya (di Solo) Jokowi sudah punya SOP (standard operating procedure), dia sudah punya good book-nya, karakter dia pas untuk menangani itu. Selama ini, kita dihadapkan dengan suatu karakter yang sedikit-sedikit harus hajar. Gue rasa yang namanya pemimpin tidak harus begitu lagi, pemimpin harus bisa mencipta empati masyarakatnya, sehingga masyarakat segan dengan pemimpinnya," ujar Iwa. "Ketegasan itu percuma kalau hasil akhirnya bikin masyarakat takut, itu buat gue, karena itu hanya akan berhasil untuk hari itu saja. Kalau dalam proses ketegasannya itu kita berbicara memanusiakan manusia, itu ketegasan efektif, bukan berarti enggak bisa tegas," sambungnya.

Sekali pun Jokowi dari Solo, menurut Iwa hal tersebut bukan lagi masalah. "Artinya, kita perlu berpikir luas untuk bikin Jakarta baik. Misalnya, mau renovasi rumah harus datangin kontraktor dari luar (atau kalau mau benahi Jakarta perlu datangkan orang Solo), ya kenapa enggak. Yang penting kan beres," tuntasnya.


© 2012 KOMPAS.com - All rights reserved