Jumat, 25 Juli 2014
Selamat Datang   |    Register   |  

Jokowi: Kampanye Gelap Bersentimen Agama, Itu Kuno!

Riana Afifah | Laksono Hari W | Senin, 25 Juni 2012 | 22:56 WIB
KOMPAS.COM/RIANA AFIFAH
Calon Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, saat mengunjungi daerah Tanah Tinggi, Jakarta, Senin (25/6/2012).

JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi saling serang dan munculnya kampanye gelap mewarnai pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2012. Kali ini, calon gubernur DKI Jakarta dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Gerindra, Joko Widodo, kembali menjadi sasaran kampanye gelap.

Tidak berbeda dari yang sebelumnya, kampanye gelap yang menimpa Wali Kota Surakarta ini selalu berbau agama. Kali ini, Joko Widodo dan pasangannya, Basuki Tjahaja Purnama, dituduh akan melarang keberadaan majelis taklim jika keduanya terpilih sebagai pemimpin Ibu Kota.

"Itu sentimen yang kuno, apalagi memakai sentimen agama untuk melakukan kampanye hitam," kata Jokowi, sapaan Joko, saat dijumpai di Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, Senin (25/6/2012).

Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah berniat melarang kegiatan keagamaan dan menghalangi warga untuk beribadah. Dengan demikian, ia memastikan bahwa kampanye gelap yang disebarkan tersebut jelas tidak benar adanya. "Saya jam 12 ya shalat zuhur. Waktunya shalat, saya shalat. Hari Jumat ya pakai baju koko. Dulu ada yang bilang saya kejawen, sekarang dibilang Islam liberal dan apa pun itu," ungkap Jokowi.

"Saya bingung. Sekarang apa-apa jadi dipakai untuk kampanye gelap. Dari baju sekarang sentimen agama. Saking udah enggak ngerti lagi mau nyerang mananya, jadi seperti ini," katanya.

Kampanye gelap yang menyudurkan Jokowi itu beredar melalui pesan berantai di telepon genggam. Pesan itu berisi ajakan untuk tidak memilih pasangan nomor urut 3 tersebut karena keduanya dianggap akan menghalangi kegiatan beribadah umat tertentu.


© 2012 KOMPAS.com - All rights reserved