Selasa, 22 Juli 2014
Selamat Datang   |    Register   |  

Thamrin Tamagola: Seharusnya Tak Ada yang Tersinggung

Kurnia Sari Aziza | Benny N Joewono | Minggu, 17 Juni 2012 | 23:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sosiolog Prof. Thamrin F. Tamagola menilai tagline Jakarta Jangan 'Berkumis' yang diangkat calon pasangan Hendardji-Riza sah dipakai. Menurutnya, berkumis itu memang berarti berantakan, kumuh, dan miskin.

"Jakarta kan memang berkumis. Berantakan, kumuh dan miskin. Istilah itu sudah ada sejak dulu. Kalau kita melihat ke Jakarta Utara dan Jakarta Barat, banyak sekali perkampungan kumuh," ujarnya di Diskusi Black Campaign dalam Pilkada DKI Jakarta 2012, di Bakoel Koffie, Cikini, Minggu, (17/6/2012).

Ia melanjutkan, seharusnya tidak ada pihak-pihak yang tersinggung dengan tagline ini. "Yang tersinggung dengan tagline ini hanya orang-orang yang kegeeran saja. Dosen saya berkumis, tapi tidak tersinggung. Menurut saya, tagline ini tidak mengarah kedalam kegiatan black campaign," tambahnya.

Sebelumnya, kontroversi tagline Jakarta jangan Berkumis (berantakan, kumuh, miskin) yang dilontarkan oleh pasangan Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria ini memang masih berlanjut.

Hingga saat ini, mediasi yang digagas oleh Panita Pengawas Pemilu DKI Jakarta (Panwaslu DKI Jakarta) pun masih menemui jalan buntu, padahal pihak Panwaslu sudah mengundang ahli bahasa dan ahli periklanan.

Kontroversi ini mencuat karena lapisan bawah dan relawan pendukung Foke-Nara tidak terima dengan slogan 'berkumis' ini.


© 2012 KOMPAS.com - All rights reserved