Jumat, 24 Oktober 2014
Selamat Datang   |    Register   |  

Foke-Nara Teratas, Hidayat Nilai Survei Lucu

Sandro Gatra | Erlangga Djumena | Kamis, 24 Mei 2012 | 12:14 WIB
KOMPAS IMAGES/MUNDRI WINANTO
Cagub Hidayat Nurwahid bersama wakilnya Didik Rachbini memperlihatkan nomor urut yang didapatkannya di acara penentuan dan penetapan nomor pasangan Cagub dan Cawagub Pilkada DKI Jakarta di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Sabtu (12/05/2012).

JAKARTA, KOMPAS.com — Calon gubernur DKI Jakarta Hidayat Nur Wahid menilai lucu hasil jajak pendapat yang dilakukan lembaga survei Indo Barometer terkait tingkat elektabilitas seluruh pasangan cagub dan cawagub DKI Jakarta. Menurutnya, hasil survei itu tak sesuai dengan kenyataan.

"Survei yang kemarin dirilis itu agak lucu juga," kata Hidayat di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (24/5/2012).

Sebelumnya, Indo Barometer mengklaim bahwa hasil surveinya menunjukkan pasangan Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara) masih teratas dibandingkan dengan pasangan lain. Dari 440 responden di Jakarta yang ditanya, 49,8 persen di antaranya memilih Foke-Nara untuk memimpin Jakarta.

Hasil survei terhadap pasangan lain bertutur-turut, yakni Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (16,4 persen), Alex Noerdin-Nono Sampono (5,7 persen), Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini (4,5 persen), Faisal Batubara-Biem Benjamin (2,3 persen), dan Hendardji Soepandji-A Riza Patria (0,2 persen).

Menurut Indo Barometer, alasan warga ibu kota memilih Foke-Nara lantaran berpengalaman, dekat dengan masyarakat, pasangan serasi, program bagus, jujur, ingin perubahan yang lebih baik, dan berwibawa. Adapun Hidayat yang pernah menjabat Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat disebut hanya dinilai bagus kinerjanya oleh 5,5 persen warga.

Hidayat menilai kinerjanya bagus selama menjabat Ketua MPR. Tolok ukurnya, kata dia, adalah penilaian wajar tanpa pengecualian dari Badan Pemeriksa Keuangan. Adapun DKI Jakarta sampai saat ini masih mendapat nilai wajar dengan pengecualian.

"Waktu itu MPR satu-satunya lembaga negara yang mendapat nilai wajar tanpa pengecualian. DKI sampai hari ini predikatnya wajar dengan pengecualian. Artinya, mana yang lebih baik? Bagi yang mengerti tentang kinerja akan lebih mudah katakan bahwa yang lebih baik wajar tanpa pengecualian," kata dia.

Anggota Komisi I DPR itu juga menyinggung harmonisasi ketika dirinya menjabat Ketua MPR dengan tiga Wakil Ketua MPR. "Sampai akhir jabatan saya tidak pernah pecah kongsi dengan wakil-wakil saya. Bukan hanya satu, tetapi tiga, bahkan ada perempuan. Sampai akhir kita rukun-rukun saja," ucapnya.

Pernyataan Hidayat itu jelas menyinggung ketidakakuran antara Foke dan wakilnya, Prijanto. Bahkan, Prijanto sampai mengajukan pengunduran diri sebagai wakil gubernur lantaran merasa tidak pernah dianggap oleh Foke.

"Jadi, survei itu agak lucu. Tapi apapun, itu namanya survei. Dia bukan pilkada itu sendiri, bukan Tuhan yang akan sabotase," ujar Hidayat.


© 2012 KOMPAS.com - All rights reserved