Sabtu, 1 November 2014
Selamat Datang   |    Register   |  

Ketika Ahok Berbicara tentang Bhinneka Tunggal Ika

Riana Afifah | Benny N Joewono | Senin, 23 April 2012 | 06:32 WIB
KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES
Bakal calon wakil gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengunjungi pameran Betawi Punye Gaye di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (19/4/2012). Pameran yang akan berlangsung dari 20-29 April 2012 ini memamerkan berbagai benda yang menjadi ciri khas Betawi, seperti replika rumah Betawi, ondel-ondel, perhiasan hingga perabotan.

JAKARTA, KOMPAS.com — Semboyan Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika, yang diartikan berbeda-beda tetapi tetap satu ini tampaknya sudah mulai luntur bagi masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti dengan isu primordialisme yang muncul di tiap daerah dalam setiap pemilihan umum kepala daerah (pilkada).

Begitu pula dengan Jakarta, isu primordialisme semakin kuat akhir-akhir ini. Bakal calon wakil gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), menuturkan, awalnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) berpikir berulang kali untuk menempatkan dirinya mendampingi Joko Widodo dalam Pilkada DKI Jakarta 2012.

"Ada anggapan kalau sama Ahok, udah China dan Kristen kan menurunkan nilai jual. Tapi selama ini kan PDI-P selalu berteriak-teriak tentang empat pilar," kata Ahok saat berkunjung di redaksi Kompas.com, Selasa (17/4/2012).

Seperti diketahui, empat pilar kehidupan berbangsa yang memang selalu disuarakan oleh partai berlambang banteng dengan moncong putih ini terdiri dari Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

"Harusnya empat fondasi ya. Kalau pilar itu gampang roboh, jadi fondasi-lah lebih kokoh. Nah di dalamnya kan ada Bhinneka Tunggal Ika. Ini mau menyelesaikan Bhinneka Tunggal Ika, tapi takut taruh Ahok karena warna kulit dan keyakinan dia. Lucu gitu, lho," ungkap Ahok.

Menurutnya, seseorang harus dilihat dari kemampuan dan rekam jejaknya, bukan hanya dari asal keturunan dan keyakinannya. Bahkan, ia menegaskan bahwa masalah keyakinan adalah masalah pribadi seseorang dan bukan sesuatu yang harus diumbar dan dijadikan bahan penilaian untuk memutuskan sesuatu.

"Itu urusan saya pribadi. Kenapa orang jadi takut masang seorang Ahok yang Kristen? Ini kan lucu. Memang realitanya ada orang enggak mau milih yang beda agama. Ini yang mau kita selesaikan tentang ke-Indonesia-an," ungkap Ahok.

"Kami ini targetnya jelas, kami bukan petinju yang asal mukul. Target kami sangat jelas, yaitu jangka panjang tentang Indonesia; dengan ke-Indonesia-an, dengan mimpi Indonesia. Mimpi rumah Indonesia di atas empat fondasi, di mana semua suku, agama, ras berhak tinggal dan mendapat hak yang sama," tandasnya.

Seperti yang tercatat dalam sejarah, pada tahun 1964, Jakarta pernah dipimpin oleh orang keturunan Manado dan beragama Kristen. Bahkan, dari 12 tokoh yang pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, sebanyak 10 tokoh tidak lahir di Jakarta dan bukan merupakan keturunan asli Jakarta.

Hanya dua tokoh yang memang lahir dan besar di Jakarta, yaitu Surjadi Soedirja dan Fauzi Bowo. Sementara itu, gubernur legendaris DKI Jakarta, yaitu Ali Sadikin, berasal dari Sumedang dan tidak besar di Jakarta. Namun, sumbangsih dan programnya untuk Jakarta dapat dinikmati oleh warga Jakarta hingga saat ini.

Begitu pula dengan Soemarno yang lahir di Jember, meski tidak memiliki latar belakang asli Jakarta, ia mampu merealisasikan pembangunan Monas dan Patung Selamat Datang yang hingga kini menjadi ikon Ibu Kota.

Lalu, masihkah isu primordialisme ini menghancurkan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan Indonesia?

Bukankah seharusnya Bhinneka Tunggal Ika ini menjadi pengikat primordialisme agar bangsa Indonesia tidak tercerai-berai?

Hanya masyarakat yang dapat menilai dan menentukan sikap yang terbaik untuk bangsa ini.


© 2012 KOMPAS.com - All rights reserved